Kamis, 16 April 2009

Mudah-mudahan ALLAH tidak mengazab kita (1)

Ini inti khutbah shalat Jumat yang disampaikan Khatib. ALLAH akan mengazab/ menghancurkan suatu kaum (suatu wilayah atau negara) jika kaum tersebut melakukan atau telah tejadi lima hal sebagai berikut: (1) Melakukan perzinahan, (2) melakukan kecurangan dalam berbisnis; (3) Tidak Membayar zakat; (4) Melanggar komitmen tauhid/tidak menjaga ketauhidan; dan (5) Tidak menggunakan Alquran sebagai acuan dalam kehidupan berbagngsa dan bernegara.

Kelima aspek tersebut di atas sangat berpengaruh besar terhadap terjadinya kehancuran suatu kaum. Sebenarnya kehancuran tersebut bukan diakibatkan oleh azab Allah semata tetapi karena tingkah laku manusia sendiri yang menyebabkan kehancuran. semua orang akan memahami dan mengetahui dengan pasti bahwa akihat perzinahan bukan hanya sebatas pada ketidakpastian tanggungjawab terhadap anak yang dihasilkan dari perzinahan tetapi juga penyakit yang ditimbulkan dari perzinahan tersebut. Selain penyakit fisiologi, timbulnya penyakit psikis dan sosial yang semakin meluas tentunya akan berdampak buruk terhadap aspek kehidupan lain di luar konteks perzinahan tersebut.

Kecurangan dalam melakukan bisnis akan berakibat pada timbulnya kerugian finansial dan ekonomi bagi pelaku bisnis yang berhubungan dengan pelaku bisnis lain yang melakukan kecurangan. Ketidak adilan dan kerugian finansial dan material akan berdampak buruk pada aspek psikologis para pelaku bisnis secara keseluruhan. Ketidakjujuran pada praktek bisnis akan semakin meluas sehingga berdampak pada aspek lain di luar bisnis. Demikian pula halnya dengan ketaatan beragama akan semakin berkutang pada seseorang yang melakukan praktek bisnis secara curang dan merugikan orang lain. Akumulasi dari kecurangan, ketidakjujuran, dan ketidakadilan akan secara langsung berakibat fatal pada runtuhnya moral pelaku bisnis. Jika frekuensi kecurangan dan ketidak jujuran semakin meningkat dan dilakukan secara berjamaah oleh suatu kaum, maka akan memberikan resultan dalam bentuk timbulnya jiwa kotor yang penuh kejahatan. Biasanya jiwa kotor yang jahat dan licik akan menghasilkan pribadi yang cenderung merusak dan cenderung semakin menjauhi ajaran Islam.

Dengan semakin menjauhnya para pebisnis dari ajaran Islam, sudah bisa ditebak bahwa apapun yang mereka lakukan untuk bisnisnya akan menghalalkan segala cara. Maka timbullah berbagai kerusakan baik kerusakan moral, kerusakan tatanan sosial, maupun kerusakan alam. Maka dengan demikian adalah suatu hal yang logis jika terjadi malapetaka dalam bentuk bencana alam. Contohnya banjir, tanah longsor, dsb. Jadi jangan menyalahkan atau mengeluh pada ALLAH kalau terjadi malapetaka atau bencana. Kalau lihat dari uraian di atas, nampaknya bencana itu terjadi karena ulah kita sendiri.... Wallahu 'alam..

Obrolan Ngalor-ngidul Pinggir Jalan 1 (Pembangunan Manusia)

Membangun manusia (human development) merupakan kewajiban negara. Tiga komponen pokok yang selama ini menjadi acuan adalah pembangunan kesehatan, pendidikan dan purchasing power. Langkah yang sudah dilakukan dengan benar oleh negara kita adalah menyediakan prasarana dan sarana fisik kesehatan dan pendidikan. Pelaku pembangunan (eksekutif) seringkali lupa dan menganggap bahwa langkah penyediaan prasarana dna sarana fisik sudah mencukupi untuk membangun manusia. Pembangunan kesehatan dan pendidikan rakyat yang seutuhnya seringkali dikesampingkan karena hanya mengacu pada kemajuan yang bersifat kuantitatif. Para pengambil keputusan (eksekutif dan legislatif) melupakan aspek kualitatif dalam pembangunan dua komponen tersebut.

Semua permasalahan akhirnya bermuara pada rendahnya kualitas pendidikan dan kesehatan yang dicapai oleh rakyat. Pelayanan pendidikan dan pelayanan kesehatan hanya bersifat untuk pencapaian target kuantitatif yangs eringkali dihubungkan dengan tujuan politis dan tujuan untuk melestarikan kekuasaan seorang penguasa. Pada kenyataannya status kesehatan rakyat dan kualitas pendidikan masuarakat secara signifikan menurun dibandingkan dengan keadaan pada zaman orde baru.

Menurunnya status kesehatan secara dan kualitas pendidikan tidak perlu dikaji dengan berbagai metode akademis yang rumit, cukup dengan melihat trend perilaku masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Semakin banyaknya kasus malpraktek oleh dokter merupakan salahsatu indikator penurunan kualitas pelayanan kesehatan. Demikian pula halnya dengan penguasaan materi bahan ajaran merupakan indikator kualitas kecerdasan anak didik dan kualitas guru sebagai pengajar (dan pendidik). Kajian sistematis dan sederhana menyangkut kualitas pelayanan kesehatan dan pendidikan tidak pernah dikaji secara serius karena dikhawatirkan akan menyinggung lembaga negara penyelenggara pendidikan dan kesehatan.... (he..he..he). Jangan lupa bahwa kesehatan bukan semata kewajiban Depkes, tapi Depkes tidak mau membagi tugasnya tersebut dengan pihak lain (meskipun tidak mampu). Dan jangan lupa juga bahwa di Indonesia hanya dokter (lulusan fakultas kedokteran) yang dianggap sebagai orang yang berkompeten dalam menangani urusan kesehatan (mangkanye, kagak ada orang selaen dokter yang bisa jadi menteri kesehatan). Tenaga pembantu kesehatan tyang bukan lulusan fakultas kedokteran dilarang (eh bukan dilarang... tidak pernah ada yang) memimpin sebuah institusi kesehatan (meski PUSKESMAS sekalipun)..... Bayangkan Coba....

Pendidikan memang meningat dari aspek usia sekolah maupun angka partisipasi secara kuantitatif. Untuk mengujinya mudah saja,... misalnya dihitung secara acak berapa persen anak yang menguasai materi pelajarannya yang sudah diajarkan setahun lalu.... Saya jamin... tidak sampai 20 %. Intinya adalah bahwa peserta didik tidak memperoleh kemampuan dan pengetahuan yang signifikan jika dibandingkan dengan waktu partisipasinya di sekolah dan biaya yang dikeluarkan untuk mencapai jenjang pendidikan tertentu...

Masalah lain yang selalu menghantui pikiran saya adalah, bahwa guru saat ini hanyalah sebuah profesi komersial yang sudah melepaskan keagungannya sebagai orang yang terhormat.... Meskipun gaji pegawai negeri sipil sudah naik lebih dari 100% jika dibandingkan dengan 10 tahun lalu, proses recruitment PNS calon guru masih carut marut dan masih dihantui oleh KKN.... Belum lagi adanya kebiasaan yang sudah berurat berakar yang menempatkan guru sebagai sapi perahan atasannya....

Memperbaiki pendidikan dan kesehatan di Indonesia sudah tidak dapat dilakukan dengan hanya proyek yang bersifat sesaat, tetapi memerlukan revolusi... Revolusi dalam pola pikir pelaku dan pelayan, revolusi metode pelayanan, revolusi kebijakan secara menyeluruh, revolusi dan restrukturisasi seluruh aparat pemerintahan, kalau perlu diganti semua.... he..he..he..

Revolusi yang dijalankan secara sistematis dan komprehensif diharapkan dapat merubah kualitas pendidikan dan kesehatan secara gradual dan merata. Disisi lain, penegasan wewenang antara pusat dan daerah dalam pelaksanaan pelayanan pendidikan dan kesehatan harus diatur secara tegas agar tidak terjadi konflik kepentingan seperti yang telah terjadi selama ini. Penegasan terhadap recruitment PNS, penugasan, penetapan pengangkatan, dan mutasi tidak boleh lagi terkendala oleh eforia otonomi daerah sehingga menyulitkan alokasi lintas wilayah dan meratakan keadilan sumberdaya manusia.

Keseimbangan dan keadilan rasio pelayanan kesehatan dan pendidikan antar wilayah juga merupakan kendala penting yang menyulitkan peningkatan pelayanan pendidikan dan kesehatan. Sumberdaya manusia di satu wilayah seringkali tidak seimbang dengan jumlah manusia yang harus dilayani sehingga terjadi kerugian manfaat ekonomi oleh masyarakat yang memperoleh tingkat pelayanan yang lebih rendah. Penegasan alokasi sumberdaya manusia seharusnya ditetapkan pada saat recruitment dan diikuti oleh kontrak moral yang memiliki komitmen mereka sebagai abdi negara dan pelayan publik. selain kontrak moral juga harus diiringi dengan penegakan hukum yang tegas bagi yang melanggar komitmen tersebut. Sebagai contoh adalah bahwa tidak perlu ada pengangkatan dokter PNS dan tidak perlu ada penerbitan izin praktek dokter bagi PNS yang melanggar komitmen. Lalu bagaimana dengan biaya yang telah dikeluarkan oleh orang tua calon dokter agar dapat kuliah di Fakultas Kedokeran???? Naaaah inilah biang keladinya... Harusnya perguruan tinggi negeri membebaskan biaya kuliah bagi mahasiwa fakultas kedokteran dan bidang pendidikan.. Seluruh biaya pendidikannya harus ditanggung negaraaa doooong... Jadi kesempatan dan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia bisa berjalannnnnnn.... Kalau sejarang gimana???? Cuma anak orang kaya yang bisa kuliah di Fakultas Kedokteran.

Sansevieria

Tanaman yang sebenarnya bukan berasal dari negeri kita dapat tumbuh subur dan bahkan lebih subur dari negeri asalnya yaitu Benua Afrika. sema tentunya setuju, tumbuh suburnya tanaman ini dikarenakan tingginya tingkat kesuburan tanah di Indonesia. saya menyukai tanaman ini karena bersifat abadi (asal jangan kena penyakit). Karena mudahnya tumbuh, maka dalam waktu singkat saja sansevieria akan menguasai lapangan tempat tumbuhnya. Disisi lain mengapa saya menyukai tanaman ini adalah tingginya kemampuan tanaman ini dalam menyedot racun yang ada di sekelilingnya. Sehingga dianggap bahwa sansevieria dapat menjadi andalan untuk mengurangi laju peningkatan polusi.

Dalam hubungannya dengan global warming, sansevieria tentunya dapat dikembangkan sebagai tanaman pioneer untuk daerah yang memiliki tingkat kesuburan rendah, misalnya di daerah gurun pasir kalimantan (eks tambang emas), di Papua atau di Bangka Belitung (eks tambang timah). Diharapkan dalam waktu lima tahun saja sansevieria mampu tumbuh dengan subur dan menutupi lahan yang gersang.

Keuntungan lainnya adalah bahwa sansevieria tidak menyaingi tanaman lain yang berada di sekelilingnya sehingga diharapkan dapat dengan cepat mengundang organisme lain untuk memasuki lhan yang ditumbuhi sansevieria. Sudah menjadi hukum alam bahwa jika semakin banyak organisme yang menempati atau datang pada suatu lokasi akan meningkatkan keanekaragaman hayati yang artinya meningkatkan kemungkinan terciptanya ekosistem baru yang selama ini sudah rusak.

Nahhh itulah mimpiku..

Rabu, 15 April 2009

BERPIKIR BEBAS DAN TIDAK KORUPSI....1

Pemerintah Indonesia seringkali membuat program pembangunan yang bersifat retorik dan hanya untuk kepentingan sesaat. Seringkali program pembangunan tersebut hanya ditujukan untuk keberlanjutan rezim politik agar tetap dihargai dan dianggap pahlawan oleh rakyat. Selain untuk kepentingan politik, banyak juga diantara program besar yang digunakan untuk tujuan memperkaya diri para pejabat yang terlibat. Kedua sikap tidak terpuji tersebut merupakan "rahasia umum" yang sudah berurat berakar sehingga menghasilkan resultant logis yang dinamakan korupsi. Kebiadaban korupsi yangt dilakukan para koruptor memang telah membuat bangsa ini tidak maju-maju dan tidak pernah serius dalam menangani masalah apapun

Orang seringkali menyalahkan orde baru sebagai biang keladi korupsi yang merajalela dan berurat berakar sehingga dianggap menjadi budaya bangsa. Padahal kalau kita telursuri lebih jauh ke belakang, kebiasaan korupsi sudah mulai terjadi sejak pemerintahan di Indonesia dipegang oleh penjajah Belanda. cobalah tengok kebiasaan nyogok para centeng yang ditujukan agar melindungi kepentingan si penyogok. Pada zaman orde lama pun demikian. Kebiasaan korupsi tetap berjalan, hanya saja jumlah koruptor dan nilai yang dikorupsi tidak sebesar sekarang.

Jadi, para penguasa di zaman orde lama dan orde baru hanya melanjutkan kebiasaan pada zaman sebelumnya.

Korupsi setelah zaman reformasi lebih menyakitkan. Kebiasaan korupsi bukan hanya dilakukan oleh orang yang memiliki kekuasaan, tetapi oleh orang yang memiliki akses ke kekuasaan. Celakanya, kalau pada zaman orde baru jumlah orang yang memiliki akses ke pusat kekuasaan hanya sedikit, sekarang menjadi besar. Sekarang ini sangat banyak orang yang memiliki akses tersebut seiring dengan bertambahnya jumlah partai yang berkuasa di kabinet, dan semakin panjangnya rantai kekuasaan, mengingat pemerintah daerah merupakan pemerintahan otonom yang tidak dikendalikan oleh pemerintah pusat.

Akibatnya adalah semakin banyak orang yang terlibat dan berkepentingan dengan tender proyek (baca program pembangunan) sehingga semakin banyak yang harus dikorupsi karenanya semakin banyak duit rakyat yang hilang. Akibat adanya korupsi semua pasti tahu. Sudah pasti implementasi proyek tidak sesuai lagi dengan spesifikasi teknis pekerjaan yang sudah digariskan dalam TOR maupun RKS yang telah ditetapkan. Kalaupun spesifikasi teknisnya sesuai, pasti harganya sudah dimarkup minimal 50 %.

Bayangkan kalau jumlah nilai proyek yang ditenderkan di Indonesia setiap tahunnya sebesar 400 triliun, maka setidaknya ada sekitar 100 triliun yang dikorupsi. Coba saja dihitung berapa sekolah, berapa rumahsakit, berapa km rel kereta, berapa km jalan tol yang dapat dibangun???? Wrrrrrr.... hebat yaa Indonesia....

Saya sih tidak punya kuasa untuk memberantas korupsi karena sudah ada lembaga formal yang berwenang dan berkompeten.... saya sih cuma ingin berbagi pengalaman, bahwa korupsi itu mudah dicegah... korupsi itu dapat kita hindari..

Caranya mudah saja... yaitu......, niatkan dan itikadkan dalam hati kita bahwa korupsi apapun bentuknya dan bagaimanapun caranya adalah perbuatan DOSA... DAN HARAM HUKUMNYA KORUPSI.... ITIKAD DAN NIAT ITU KEMUDIAN KITA IMPLEMENTASIKAN DALAM KEHIDUPAN KITA SEHARI HARI DENGAN TIDAK MENGAMBIL ATAU MELAKUKAN ATAU MENDUKUNG SEGALA BENTUK KORUPSI DALAM BENTUK YANG PALING SEDERHANA SEKALIPUN. Contohnya bisa dicari sendiri...he..he..he.. kalau saya kasih contoh takut nyinggung orang aaaaah....

Setalah niat, itikad dan impelementasi, jaklah anak istri kita untuk selalu berfikir positif dalam menghadapi berbagai masalah ekonomi rumahtangga kita... Karena korupsi biasanya berawal dari nafsu yang didorong oleh keinginan untuk memperkaya diri agar tampil mewah..wah..wah... Ajaklah anak istri kita untuk selalu melihat kehidupan fakir miskin yang ada di sekeliling kita agar kita merasakan penderitaan mereka... Agar kita bisa membantu mereka dengan ikhlas....

Selanjutnya bebaskan pikiran kita dari berbagai macam keinginan yang berada di luar kemampuan finansial kita. Jauhkan fikiran ingin hidup mewah jika kita memang tidak mampu mencapainya dengan cara yang halal......

Selanjutnya adalah pasrahkan pada ALLAH SWT bahwa kita sudah berusaha untuk tidak korupsi... dan berusahalah selalu untuk mencari rizki yang halal dengan diiringi do'a pada ALLAH SWT. Bebaskan pikiran dari nafsu serakah dan nafsu duniawi yang berlebihan... Insya ALLAH, ALLAH akan menolong kita....

Kebebasan berpikir dan kebebasan bertindak hanya akan dapat dilakukan jika kita tidak terlibat korupsi...

Minggu, 12 April 2009

Ramai-ramai Jadi Caleg

Sudah menjadi kebiasaaan buruk bangsa kita dalam menghadapi sesuatu yang baru. Ketika datang sebuah kesempatan untuk menjadi pengusaha, maka ramai-ramai orang menjadi pengusaha. Kalau ada yang berhasil dalam usahanya biasanya para pesaing menjadi sinis atau bahkan benci..... Kenapa ya, mesti membenci orang yang berhasil. Biasanya orang yang berhasil itu dijelek-jelekan sampai-sampai pengusaha tersebut terpengaruh baik dari segi omzet maupun tingkat keuntungan yang diperoleh.

Dari sini kita dapat memahami betapa bangsa kita sedang sakit... Bangsa kita (Sebagian) belum dapat menerima kekalahan, bangsa kita belum bisa melihat orang lain maju, bangsa kita cenderung ingin menjatuhkan orang lain.... Lalu apa jadinya kalau begini terussss? Kita tidak akan pernah maju. Maka sifat bangsa kita yang negatif tersebut dimanfaatkan oleh sekelompok bangsa lain yang lebih tangguh dan tidak banyak terpengaruh oleh kebiasaan buruk bangsa kita. Akhirnya bangsa tersebut mampu menguasai seluruh lini kehidupan dan seluruh sistem perekonomian bangsa Indonesia, dan bahkan sekarang sudah merambah ke dunia politik, dunia yang dulunya tidak mereka jamah.

Bangsa Indonesia seharusnya belajar banyak dan mencontoh sisi positif yang mereka perlihatkan dalam berusaha, bekerja, bahkan dalam mengambil setiap keputusan. Bukan dengan berpangku tangan tetapi ingin langsung untung besar atau menjadi orang terkenal hanya dengan lewat mimpi. sudah seharusnyalah bangsaku ini merubah seluruh kebiasaan buruk menjadi bangsa yang selalu berpikir positif, selalu bekerja keras untuk mencapai sesuatu, dan tentunya selalu mengembangkan ide-ide kreatif menjadi sebuah mahakrya yang besar dan diakui dunia.

Karena kebiasaan buruk yang selalu menghantui bangsaku ini, semakin lama semakin banyak orang yang tidak mampu mengembangkan ide positif dan kreatif, dan sudah barang tentu akan menghasilkan kemalasan dan cenderung mencari barang instan.... bahkan untuk segala macam inginny instan, makanan instan, cari uang instan, cari kerja instan, dan.... jadi caleg pun inginnya instan..............

Berbagai cara ditempuh orang untuk menjadi caleg, ada yang pakai dukun, ada yang bagi-bagi stiker, ada yang bagi-bagi kaos, dan berbagai macam cara yang tidak memperlihatkan kemampuan dan profesionalisme seorang politikus. Kalaupun ada Caleg yang berhasil dipilih tanpa mengeluarkan uang atau dengan cara instan, mereka hanyalah berasal dari golongan selebritis, politikus tua, atau mantan pejabat negara... Merekalah yang memperoleh kesempatan tanpa harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk promosi. Sedangkan caleg lain yang berusaha dengan cara yang tidak etis cenderung tidak dipilih atau dipilih dengan komitmen tertentu dengan konstituennya.... Naaaah biasanya janji-janji dengan konstituen hanya sekedar janji... Kalau udah duduk jadi anggota legislatif sich luuupaaaa sama janji-janjinya.

Selain caleg yang berhasil terpilih, banyak juga caleg yang tidak terpilih.. Saya tidak pernah membayangkan betapa yang tidak terpilih ini bingung setengah mati. Kenapa mereka bingung>?? coba saja pembaca pikir, di antara mereka itu ada yang pinjam uang atau bahkan menjual harta warisan untuk kampanye... Bayangkan kalau tidak terpilih... Bisa gila dah....... Dan memang sudah banyak yang jadi gila.... Ihhhh serem...

Itulah kelemahan bangsa kita. Seringkali diantara kita menggunakan ilmu sapi... Satu bunyi emoooooo yang lain emooooooo. Satu jadi caleg... yang lain juga pengen jadi caleg... Kalau kepilih enaaaak.. kalau enggak kepilih.. pikirin sendiri dah...